Rabu, 07 April 2010

HUMOR CINTA ( REVISI )

Oleh Izzan Nafi Arini

Pagi yang mendung mengawali perjalanan kisahku. Pagi ini aku piket bersih-bersih di sekolah,aku agak berangkat lebih awal. Aku segera mandi setelah aku membersihkan kamar tidurku. Saking dinginnya air membuat aku segera cepat-cepat keluar dari kamar mandi.

“Ah…akhirnya selesai juga.”

“Sayang cepat hari ini kamu piket kan di sekolah?” teriak mamaku dari lantai bawah di meja makan rumah kami.

“Iya, Ma aku ganti baju dulu!”

Aku segera ganti baju untuk segera menuju ke meja makan.

“Sayang sini makan Mama sudah siapin roti buat kamu,mau rasa apa sayang?”

“Ah, nggak Ma aku ambil sendiri saja.”

Aku duduk dan mulai makan roti tawar yang di siapkan mamaku.

“Sayang nanti Mama mau arisan ntar kamu di rumah sama Bibi ya…”

“Iya nggak papa kok Ma,Ma aku berangkat dulu ya..”

“Iya hati-hati ya, Sayang.”

Assalamu’alaikum?” sambil kucium tangan mamaku dan ku mulai meninggalkan rumah.

Waalaikumsalam,hati-hati sayang.”

Aku segera ambil sepeda pink kesayanganku yang sudah dikeluarkan Pak Argo.

“Pak, Nia berangkat dulu, ya!”

“Ya, Non…jangan lupa baca doa, ya.”

Aku mulai menaiki sepeda hadiah ulang tahunku yang ke-13 pemberian ayahku. Pagi yang mendung membuat aku kedinginan saat aku menaiki sepeda kesayanganku. Tapi aku harus tetap pergi ke sekolah. Kulihat jam tanganku dan jam mulai menunjukkan pukul 06:30. Kukayuh sepedaku makin kencang karena waktu telah mengejarku. Sekolahku sudah mulai terlihat dari kejauhan.

“Akhirnya sampai juga.”

Aku segera masuk ke ruang kelasku dan mulai menyapu lantai ruang kelasku, salah satu kelas favorit di sekolahku. Ya sih aku memang salah satu murid di kelas itu. Kurasa biasa saja menjadi salah satu murid di kelas ini. Aku segera menyapu di sela-sela meja kursi di kelasku,dan akhirnya selesai. Kutengok ke luar kelasku ternyata murid-murid lain sudah berangkat.

“Tet…tet…tet…!” bel berbunyi. Anak-anak segera masuk ke ruang kelas mereka masing-masing.

Tak ada aktivitas apa pun yang kami lakukan di rung kelas,begitu pun kelas-kelas yang lain. Setelah beberapa jam kami mulai bosan membaca buku-buku pelajaran. Setelah sekitar jam 09.00 kami ke luar kelas.

“Hari ini kayaknya free,denger-denger guru-guru pada rapat,” kata salah satu teman sebelah bangkuku. Siska itu namanya, nama lengkapnya Siska Indriyani.

“Wah, beneran Sis? Enak dong bebas tapi pulangnya jam berapa?”

“Kayaknya jam 10-an, emangnya ada apa?”

“Enggak cuma tanya aja soalnya tadi Mama aku bilang mau pergi arisan.”

“O… ntar ke rumahku, yuk.”

“Maaf tapi hari ini aku kurang bersemangat.”

“Ya, udah kapan-kapan kamu main ke rumahku ya…”

“Ya, …insyaallah.”

“Perhatian semua murid boleh belajar di rumah.”

Murid-murid rame mendengar pengumuman tadi dan segera berkemas-kemas untuk pulang begitu pun aku. Aku segera masuk ke kelas untuk mengemasi buku-bukuku yang berserakan di meja. Aku langsung ke parkiran mengambil sepeda kesayanganku. Dan mulai mengayuh sepedaku. Hari sudah mulai cerah dan matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar matahari membakar kulitku. Tapi tak apalah yang penting sudah pulang lebih awal. Lagian rumahku dengan sekolah nggak begitu jauh. Mungkin cuma 15 menit saja. Dah akhirnya aku sampai juga di rumah yang membesarkan aku sampai besar seperti ini.

“Assalamualaikum, Nia pulang...?”

“Non sudah pulang?”

“Iya, tadi ada rapat di sekolah,Mama udah berangkat?”

“Udah Non, iya tadi ada yang titip surat sama bibi pas Non baru saja berangkat, ini Non.”

“Tapi dari siapa, Bi?”

“Bibi nggak tahu yang pasti dia tadi cowok,kayaknya teman sekolah Non soalnya seragamnya sama punya Non.”

Ku buka surat yang membuat aku penasaran itu.

Temui aku siang ini di cafe valya jam 11.00 PENTING!

Aku penasaran dengan siapa yang mengirim surat ini padaku. Tapi berpikir mungkin dia, tapi kenapa harus pake suratkan dia bisa ngomong langsung sama aku. Tapi aku tak percaya dengan surat itu. Aku segera naik dan masuk ke kamar aku. Aku segera ganti baju, tapi aku resah saat aku teringat dengan surat itu. Tepat pukul 11.00 hatiku makin penasaran dengan pengirim surat kaleng itu. Aku segera ganti baju untuk segera pergi ke cafe itu. Aku segera ke bawah dan berpamitan kepada bibi.

“Bi,nanti kalau aku ditanya Mama bilang aja kalau aku pergi ke rumah temen aku.”

Aku segera ke luar rumah.

“Tapi Non kok buru-buru gitu?”

Kebetulan ada raksi lewat,aku segera masuk ke dalam taksi.

“Pak cepet ya,antar saya ke Cafe valya,” buruku pada sopir taksi itu.

Dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Tapi sepertinya aku telat datang.

“Aduh, kenapa macet? Dia masih di sana nggak ya?”

Aku makin cemas, terik matahari yang menyengat tak membuat aku putus asa karena aku benar-benar ingin tahu siapa yang mengirim surat itu padaku. Dering HP aku berbunyi,ku lihat ternyata ada sms masuk.

“Siang Cayang kamu lagi apa?”

Ternyata sms dari dia,ini membuat aku makin penasaran siapa kalau bukan dia. Aku segera membalas sms dari Ardi. Seorang cowok yang membuat aku jatuh cinta. Aku jujur dengan dia kalau aku ingin pergi.

“Aku sedang ke luar rumah Cayang ada acara penting.”

Balasku padanya di sms.

Setelah itu dia tak lagi membalas smsku,memang dia pengertian sama aku. Dia tak pernah menggangu semua urusan yang aku anggap penting.

Kulihat jam tanganku, waktu mulai menunjukkan pukul 11.20 hatiku makin tak karuan. Taksi pun mulai berjalan dari kemacetan yang menghambat perjalananku ke sana. Taksi pun berhenti karena sudah sampai di depan cafe. Aku segera ke luar taksi.

“Eh neng,bayar dulu!” teriak sopir taksi itu padaku.

“Oh, iya Pak maaf,ini.”

Saking terburunya aku sampai-sampai aku lupa bayar. Aku segera masuk,tapi dering HP aku berbunyi lagi. Dan lagi-lagi sms. Ku lihat 085674292986 nomer yang tidak aku kenal.

“Aku tahu kamu sudah sampai di depan cafee, aku pakai jaket coklat kotak-kotak.”

Sms ini membuat aku penasaran,dan aku segera masuk untuk mencari cowok itu. Kutengok kanan kiri mataku tertuju pada meja no 14. Di sana kulihat cowok berjaket coktat kotak-kotak. Segera aku mendekatinya. Saat aku ingin bertanya padanya dering HPku berbunyi lagi. Ternyata sms dari lelaki misterius itu. Kubuka sms itu.

“Aku bukan dia aku duduk di meja sebelah timur.”

Kutengok ke bagian timur tak kulihat seorang cowok berjaket coklat kotak-kotak. Kuambil HPku di tas. Ku-sms cowok itu.

“Kamu di mana,jangan permainkan aku!”

Beberapa menit kemudian HPku berdering ternyata ada sms. Segera kubuka sms ternyata Mamaku. Mama menanyakanku kalau aku ada di mana. Tapi tak kuhiraukan sms dari Mamaku. Aku makin penasaran dengan cowok bernomer IM3 itu. Kutelpon nomor itu dan telpon aku ditolak. Aku makin jengkel dengan cowok bernomer IM3 itu. Aku mulai meninggalkan cafe itu,tapi dering HPku berbunyi lagi. Kulihat ternyata sms dari cowok itu.

Kamu jangan keluar,sekarang aku ada di meja no 8.” Begitu smsnya padaku.

Sekali lagi kamu mempermainkan aku,aku tak akan mencari kamu lagi.” Begitu balasan smsku padanya.

Cayang kamu bisa ketemu sama aku.” Sms Ardi padaku kala kuingin mencari cowok misterius itu. Ku makin bingung aku ingin membalas apa padanya. Masa aku bilang kalau aku ingin menemui cowok yang tidak aku kenal. Tapi aku harus jujur padanya.

Maaf Cayang aku enggak bisa aku lagi sibuk. Aku mau ketemu sama cowok yang enggak aku kenal, dia bilang kalau ada masalah penting,” balasku padanya.

Smsku nggak dibalas-balas, tapi tak apalah mungkin dia sudah mengerti aku. Aku segera berjalan menuju meja no 8. Kulihat seorang cowok yang tak begitu asing kulihat. Kudekati dia. Sungguh aku kaget ternyata cowok ber nomer IM3 itu Ardi pacar aku.

“Cayang….”panggilku.

Dia segera berdiri dan mempersiapkan tempat duduk untukku.

“Silakan duduk.”

Tapi wajahnya aneh saat itu. Wajahnya agak sinis kala aku ingin melihatnya. Ini membuat aku takut dengan semua yang terjadi tadi saat aku bilang kalau aku ingin menemui seorang cowok yang tidak aku kenal. Dan tak begitu mempedulikannya.

“Aku mau ngomong sama kamu,” katanya padaku dengan wajah yang begitu serius.

Ini membuat hatiku makin berdebar-debar. Kulihat matanya begitu sinis. Aku segera menganggukkan kepalaku.

“Mau ngomong apa, Cayang?” tanyaku padanya agak ketakutan.

“Apa kamu siap?” tanyanya balik padaku.

“Memangnya kamu mau ngomong apa?”

“Sudah kamu siap apa nggak?”

Ini membuat aku makin takut. Aku takut kalau hubungan yang aku jalani padanya akan putus karena masalah ini. Karena aku sudah terlanjur sayang dengannya sudah sekitar satu tahun aku jalani hubungan ini. Masak aku harus putus dengannya. Tapi bagaimana lagi kalau ini yang dia inginkan.

“Ya…aku siap, kamu ngomong aja aku terima semua keputusan kamu,” jawabku padanya agak terputus-putus.

“Nia…aku mau ngomong kalau…”

Aku menganggukkan kepalaku dan memejamkan mataku rapat-rapat. Karena begitu ketakutannya padaku.

“Aku mau ngomong kalau aku sayang sama kamu,selamat ulang tahun hubungan kita ya…”

Aku kaget, hati aku sangat lega. Kupandang dia dan dia hanya tersenyum padaku.

“Maaf Cayang, aku tadi ngerjain kamu.”

“Ah…kamu,tak kira kamu mau mutusin aku. Nggak papa kok. Makasih ya kamu dah inget ma hubungan kita.”

“Nggak aku masih sayang kok sama kamu. Ea… tadi kamu di-sms Mama kamu kan nggak kamu bales sana balas dulu!” katanya padaku.

“Iya,tadi Mama sms aku.”

Segera ku ambil HPku dan kubalas sms dari Mama aku.

“Ea…tapi kamu kok tahu kalau Mamaku sms ,dan tadi nomer siapa?” tanyaku padanya.

“Tahu dong kan tadi aku sms Mama kamu, cuma mastiin kalau kamu jadi pergi ke sini nggak. Dan nomor itu…itu nomor baruku yang aku beli buat ngerjain kamu aja. Maaf Cayang.”

“Ah tak kira kamu siapa lho, Cayang!”

Setelah itu kami ngobrol,ini membuat aku makin sayang sama dia. Tak terasa aku ngobrol dengannya. Kulihat jam tanganku jam menunjukkan pukul 12.30.

“Yeah…sudah siang nih pulang, yuk..”ajakku padanya.

“Iya saking asyiknya. Kamu mau tak anterin?”

“Enggak aku mau naik taksi aja.”

“Ya udah hati-hati ya…”

Kami segera pulang karena sudah siang dan kami pun juga belum salat. Setelah beberapa menit aku menunggu taksi. Akhirnya ada taksi yang lewat. Aku segera masuk dan kebetulan lagi itu taksi yang aku naiki waktu aku berangkat.

“Eh…kamu lagi neng,” sapa sopir itu padaku.

“Iya…,”jawabku agak malu padanya karena tadi aku lupa bayar.

Di dalam taksi kami bercerita tentang kenapa tadi aku sampai lupa bayar. Perjalanan kami diwarnai dengan tawa. Dan tak terasa juga kalau sudah sampai di rumahku. Taksi berhenti.

“Neng jangan lupa bayar, ya,” candanya padaku saatku ingi membayar ongkos taksi pada sopir itu.

Aku hanya bisa tertawa. Aku segera masuk ke rumah. Mama sudah menunggu aku. Aku segera masuk kekamar untuk salat. Setelah itu aku menceritakan semuanya pada Mama. Mama tertawa saat aku menceritakan semua yang aku lakukan hari ini. Aku dan Mama aku memang sangat akrab. Aku selalu menceritakan semua yang aku rasakan sama Mamaku. Dan semua telah bahagia. Aku cuma bisa berharap selamanya kan seperti ini. Aku bahagia dengan semua anugerah dan kenikmatan yang di berikan Allah padaku dan keluargaku.