Rabu, 07 April 2010

HUMOR CINTA ( REVISI )

Oleh Izzan Nafi Arini

Pagi yang mendung mengawali perjalanan kisahku. Pagi ini aku piket bersih-bersih di sekolah,aku agak berangkat lebih awal. Aku segera mandi setelah aku membersihkan kamar tidurku. Saking dinginnya air membuat aku segera cepat-cepat keluar dari kamar mandi.

“Ah…akhirnya selesai juga.”

“Sayang cepat hari ini kamu piket kan di sekolah?” teriak mamaku dari lantai bawah di meja makan rumah kami.

“Iya, Ma aku ganti baju dulu!”

Aku segera ganti baju untuk segera menuju ke meja makan.

“Sayang sini makan Mama sudah siapin roti buat kamu,mau rasa apa sayang?”

“Ah, nggak Ma aku ambil sendiri saja.”

Aku duduk dan mulai makan roti tawar yang di siapkan mamaku.

“Sayang nanti Mama mau arisan ntar kamu di rumah sama Bibi ya…”

“Iya nggak papa kok Ma,Ma aku berangkat dulu ya..”

“Iya hati-hati ya, Sayang.”

Assalamu’alaikum?” sambil kucium tangan mamaku dan ku mulai meninggalkan rumah.

Waalaikumsalam,hati-hati sayang.”

Aku segera ambil sepeda pink kesayanganku yang sudah dikeluarkan Pak Argo.

“Pak, Nia berangkat dulu, ya!”

“Ya, Non…jangan lupa baca doa, ya.”

Aku mulai menaiki sepeda hadiah ulang tahunku yang ke-13 pemberian ayahku. Pagi yang mendung membuat aku kedinginan saat aku menaiki sepeda kesayanganku. Tapi aku harus tetap pergi ke sekolah. Kulihat jam tanganku dan jam mulai menunjukkan pukul 06:30. Kukayuh sepedaku makin kencang karena waktu telah mengejarku. Sekolahku sudah mulai terlihat dari kejauhan.

“Akhirnya sampai juga.”

Aku segera masuk ke ruang kelasku dan mulai menyapu lantai ruang kelasku, salah satu kelas favorit di sekolahku. Ya sih aku memang salah satu murid di kelas itu. Kurasa biasa saja menjadi salah satu murid di kelas ini. Aku segera menyapu di sela-sela meja kursi di kelasku,dan akhirnya selesai. Kutengok ke luar kelasku ternyata murid-murid lain sudah berangkat.

“Tet…tet…tet…!” bel berbunyi. Anak-anak segera masuk ke ruang kelas mereka masing-masing.

Tak ada aktivitas apa pun yang kami lakukan di rung kelas,begitu pun kelas-kelas yang lain. Setelah beberapa jam kami mulai bosan membaca buku-buku pelajaran. Setelah sekitar jam 09.00 kami ke luar kelas.

“Hari ini kayaknya free,denger-denger guru-guru pada rapat,” kata salah satu teman sebelah bangkuku. Siska itu namanya, nama lengkapnya Siska Indriyani.

“Wah, beneran Sis? Enak dong bebas tapi pulangnya jam berapa?”

“Kayaknya jam 10-an, emangnya ada apa?”

“Enggak cuma tanya aja soalnya tadi Mama aku bilang mau pergi arisan.”

“O… ntar ke rumahku, yuk.”

“Maaf tapi hari ini aku kurang bersemangat.”

“Ya, udah kapan-kapan kamu main ke rumahku ya…”

“Ya, …insyaallah.”

“Perhatian semua murid boleh belajar di rumah.”

Murid-murid rame mendengar pengumuman tadi dan segera berkemas-kemas untuk pulang begitu pun aku. Aku segera masuk ke kelas untuk mengemasi buku-bukuku yang berserakan di meja. Aku langsung ke parkiran mengambil sepeda kesayanganku. Dan mulai mengayuh sepedaku. Hari sudah mulai cerah dan matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar matahari membakar kulitku. Tapi tak apalah yang penting sudah pulang lebih awal. Lagian rumahku dengan sekolah nggak begitu jauh. Mungkin cuma 15 menit saja. Dah akhirnya aku sampai juga di rumah yang membesarkan aku sampai besar seperti ini.

“Assalamualaikum, Nia pulang...?”

“Non sudah pulang?”

“Iya, tadi ada rapat di sekolah,Mama udah berangkat?”

“Udah Non, iya tadi ada yang titip surat sama bibi pas Non baru saja berangkat, ini Non.”

“Tapi dari siapa, Bi?”

“Bibi nggak tahu yang pasti dia tadi cowok,kayaknya teman sekolah Non soalnya seragamnya sama punya Non.”

Ku buka surat yang membuat aku penasaran itu.

Temui aku siang ini di cafe valya jam 11.00 PENTING!

Aku penasaran dengan siapa yang mengirim surat ini padaku. Tapi berpikir mungkin dia, tapi kenapa harus pake suratkan dia bisa ngomong langsung sama aku. Tapi aku tak percaya dengan surat itu. Aku segera naik dan masuk ke kamar aku. Aku segera ganti baju, tapi aku resah saat aku teringat dengan surat itu. Tepat pukul 11.00 hatiku makin penasaran dengan pengirim surat kaleng itu. Aku segera ganti baju untuk segera pergi ke cafe itu. Aku segera ke bawah dan berpamitan kepada bibi.

“Bi,nanti kalau aku ditanya Mama bilang aja kalau aku pergi ke rumah temen aku.”

Aku segera ke luar rumah.

“Tapi Non kok buru-buru gitu?”

Kebetulan ada raksi lewat,aku segera masuk ke dalam taksi.

“Pak cepet ya,antar saya ke Cafe valya,” buruku pada sopir taksi itu.

Dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Tapi sepertinya aku telat datang.

“Aduh, kenapa macet? Dia masih di sana nggak ya?”

Aku makin cemas, terik matahari yang menyengat tak membuat aku putus asa karena aku benar-benar ingin tahu siapa yang mengirim surat itu padaku. Dering HP aku berbunyi,ku lihat ternyata ada sms masuk.

“Siang Cayang kamu lagi apa?”

Ternyata sms dari dia,ini membuat aku makin penasaran siapa kalau bukan dia. Aku segera membalas sms dari Ardi. Seorang cowok yang membuat aku jatuh cinta. Aku jujur dengan dia kalau aku ingin pergi.

“Aku sedang ke luar rumah Cayang ada acara penting.”

Balasku padanya di sms.

Setelah itu dia tak lagi membalas smsku,memang dia pengertian sama aku. Dia tak pernah menggangu semua urusan yang aku anggap penting.

Kulihat jam tanganku, waktu mulai menunjukkan pukul 11.20 hatiku makin tak karuan. Taksi pun mulai berjalan dari kemacetan yang menghambat perjalananku ke sana. Taksi pun berhenti karena sudah sampai di depan cafe. Aku segera ke luar taksi.

“Eh neng,bayar dulu!” teriak sopir taksi itu padaku.

“Oh, iya Pak maaf,ini.”

Saking terburunya aku sampai-sampai aku lupa bayar. Aku segera masuk,tapi dering HP aku berbunyi lagi. Dan lagi-lagi sms. Ku lihat 085674292986 nomer yang tidak aku kenal.

“Aku tahu kamu sudah sampai di depan cafee, aku pakai jaket coklat kotak-kotak.”

Sms ini membuat aku penasaran,dan aku segera masuk untuk mencari cowok itu. Kutengok kanan kiri mataku tertuju pada meja no 14. Di sana kulihat cowok berjaket coktat kotak-kotak. Segera aku mendekatinya. Saat aku ingin bertanya padanya dering HPku berbunyi lagi. Ternyata sms dari lelaki misterius itu. Kubuka sms itu.

“Aku bukan dia aku duduk di meja sebelah timur.”

Kutengok ke bagian timur tak kulihat seorang cowok berjaket coklat kotak-kotak. Kuambil HPku di tas. Ku-sms cowok itu.

“Kamu di mana,jangan permainkan aku!”

Beberapa menit kemudian HPku berdering ternyata ada sms. Segera kubuka sms ternyata Mamaku. Mama menanyakanku kalau aku ada di mana. Tapi tak kuhiraukan sms dari Mamaku. Aku makin penasaran dengan cowok bernomer IM3 itu. Kutelpon nomor itu dan telpon aku ditolak. Aku makin jengkel dengan cowok bernomer IM3 itu. Aku mulai meninggalkan cafe itu,tapi dering HPku berbunyi lagi. Kulihat ternyata sms dari cowok itu.

Kamu jangan keluar,sekarang aku ada di meja no 8.” Begitu smsnya padaku.

Sekali lagi kamu mempermainkan aku,aku tak akan mencari kamu lagi.” Begitu balasan smsku padanya.

Cayang kamu bisa ketemu sama aku.” Sms Ardi padaku kala kuingin mencari cowok misterius itu. Ku makin bingung aku ingin membalas apa padanya. Masa aku bilang kalau aku ingin menemui cowok yang tidak aku kenal. Tapi aku harus jujur padanya.

Maaf Cayang aku enggak bisa aku lagi sibuk. Aku mau ketemu sama cowok yang enggak aku kenal, dia bilang kalau ada masalah penting,” balasku padanya.

Smsku nggak dibalas-balas, tapi tak apalah mungkin dia sudah mengerti aku. Aku segera berjalan menuju meja no 8. Kulihat seorang cowok yang tak begitu asing kulihat. Kudekati dia. Sungguh aku kaget ternyata cowok ber nomer IM3 itu Ardi pacar aku.

“Cayang….”panggilku.

Dia segera berdiri dan mempersiapkan tempat duduk untukku.

“Silakan duduk.”

Tapi wajahnya aneh saat itu. Wajahnya agak sinis kala aku ingin melihatnya. Ini membuat aku takut dengan semua yang terjadi tadi saat aku bilang kalau aku ingin menemui seorang cowok yang tidak aku kenal. Dan tak begitu mempedulikannya.

“Aku mau ngomong sama kamu,” katanya padaku dengan wajah yang begitu serius.

Ini membuat hatiku makin berdebar-debar. Kulihat matanya begitu sinis. Aku segera menganggukkan kepalaku.

“Mau ngomong apa, Cayang?” tanyaku padanya agak ketakutan.

“Apa kamu siap?” tanyanya balik padaku.

“Memangnya kamu mau ngomong apa?”

“Sudah kamu siap apa nggak?”

Ini membuat aku makin takut. Aku takut kalau hubungan yang aku jalani padanya akan putus karena masalah ini. Karena aku sudah terlanjur sayang dengannya sudah sekitar satu tahun aku jalani hubungan ini. Masak aku harus putus dengannya. Tapi bagaimana lagi kalau ini yang dia inginkan.

“Ya…aku siap, kamu ngomong aja aku terima semua keputusan kamu,” jawabku padanya agak terputus-putus.

“Nia…aku mau ngomong kalau…”

Aku menganggukkan kepalaku dan memejamkan mataku rapat-rapat. Karena begitu ketakutannya padaku.

“Aku mau ngomong kalau aku sayang sama kamu,selamat ulang tahun hubungan kita ya…”

Aku kaget, hati aku sangat lega. Kupandang dia dan dia hanya tersenyum padaku.

“Maaf Cayang, aku tadi ngerjain kamu.”

“Ah…kamu,tak kira kamu mau mutusin aku. Nggak papa kok. Makasih ya kamu dah inget ma hubungan kita.”

“Nggak aku masih sayang kok sama kamu. Ea… tadi kamu di-sms Mama kamu kan nggak kamu bales sana balas dulu!” katanya padaku.

“Iya,tadi Mama sms aku.”

Segera ku ambil HPku dan kubalas sms dari Mama aku.

“Ea…tapi kamu kok tahu kalau Mamaku sms ,dan tadi nomer siapa?” tanyaku padanya.

“Tahu dong kan tadi aku sms Mama kamu, cuma mastiin kalau kamu jadi pergi ke sini nggak. Dan nomor itu…itu nomor baruku yang aku beli buat ngerjain kamu aja. Maaf Cayang.”

“Ah tak kira kamu siapa lho, Cayang!”

Setelah itu kami ngobrol,ini membuat aku makin sayang sama dia. Tak terasa aku ngobrol dengannya. Kulihat jam tanganku jam menunjukkan pukul 12.30.

“Yeah…sudah siang nih pulang, yuk..”ajakku padanya.

“Iya saking asyiknya. Kamu mau tak anterin?”

“Enggak aku mau naik taksi aja.”

“Ya udah hati-hati ya…”

Kami segera pulang karena sudah siang dan kami pun juga belum salat. Setelah beberapa menit aku menunggu taksi. Akhirnya ada taksi yang lewat. Aku segera masuk dan kebetulan lagi itu taksi yang aku naiki waktu aku berangkat.

“Eh…kamu lagi neng,” sapa sopir itu padaku.

“Iya…,”jawabku agak malu padanya karena tadi aku lupa bayar.

Di dalam taksi kami bercerita tentang kenapa tadi aku sampai lupa bayar. Perjalanan kami diwarnai dengan tawa. Dan tak terasa juga kalau sudah sampai di rumahku. Taksi berhenti.

“Neng jangan lupa bayar, ya,” candanya padaku saatku ingi membayar ongkos taksi pada sopir itu.

Aku hanya bisa tertawa. Aku segera masuk ke rumah. Mama sudah menunggu aku. Aku segera masuk kekamar untuk salat. Setelah itu aku menceritakan semuanya pada Mama. Mama tertawa saat aku menceritakan semua yang aku lakukan hari ini. Aku dan Mama aku memang sangat akrab. Aku selalu menceritakan semua yang aku rasakan sama Mamaku. Dan semua telah bahagia. Aku cuma bisa berharap selamanya kan seperti ini. Aku bahagia dengan semua anugerah dan kenikmatan yang di berikan Allah padaku dan keluargaku.

Kamis, 11 Maret 2010

PENJARA CINTAKU YANG SUCI (REVISI)

Oleh:Izzan Nafi Arini

Aku tidak menyangka bisa menemukan wanita seperti dia. Begitu banyak masalah keluarga yang menimpaku. Hingga aku tak bisa mengurusi diriku sendiri. Aku merasa ayah dan ibuku berlebihan kepadaku. Mereka memaksaku untuk begini begitu,aku sangat tertekan dengan keinginginan mereka kepadaku. Mereka tidak pernah membebaskan aku. Apa mereka tidak pernah berfikir kalau aku ini laki-laki,aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain bebas.

Aku sadar kalAu aku anak santri, tapi apa aku harus baik banget? Enggakkan ? aku benar-benar tertekan dengan keluargaku. Sampai-sampai aku menjadi anak yang nakal disekolah maupun dipondok. Apalagi aku anak kelas VIII,umur-umur anak remaja, dimana butuh kebebasan. Aku tidak bisa bebas dengan aturan-aturan keluarga,pondok,dan sekolah. Jadi aku keluarkan semua itu dengan kenakalanku saat ini.

Dipondok aku terkenal menjadi anak ternakal. Aku pernah dihukum pengurus nguras got,gara-gara aku melanggar peraturan pondok merokok. Aku tidak kapok-kapok dengan perbuatanku. Mungkin ini semua terjadi karena aku bener-bener tertekan dengan semua aturan-aturan yang mengikatku.

Keluagraku tidak pernah memperhatikanku,ya memang benar aku dituntut begini begitu tapi mereka hanya sebatas menuntut saja, tidak pernah bisa mengerti perasaanku. Itu semua membuat aku jarang pulang kerumah disaat libur sekolah maupun libur pondok. Aku begitu kesal melihat keluaragku. Aku hanya pulang kerumah Budeku. Aku enggak tau kenapa aku merasa nyaman disana. Mungkin karena banyak yang memperhatikan aku dan mengerti perasaanku. Entah aku tidak tau dengan semua itu. Aku hanya merasa nyaman dengan Budeku.

Disekolah aku juga dicap menjadi anak nakal,tapi aku juga heran kenapa aku bisa menjadi pengurus OSIS di MTs N Bantul. Tapi mungkin itu hanya kebetulan saja. Meskipun aku menjadi salah satu pengurus OSIS aku tetap menjadi anak nakal. Aku pernah ditanya temanku kenapa aku bisa senakal kayak gitu. Dia menebak kalau aku butuh kasih sayang. Aku merasa mungkin itu benar. Kucuba mendekati wanita. Tapi aku belum bisa menemukan wanita yang bisa memberikan kasih sayang yang aku inginkan.

Hingga aku mengenal dia. Aku belum pernah sama sekali mengenal dia . Meskipun dia satu ponpes denganku. Saat aku mulai mengenal dia aku mulai merasakan sedikit kenyamanan. Kucoba untuk mendekatinya. Dan aku ingin memilikinya. Tapi aku ragu untuk mengungkapkannya. Aku sadar kalau aku hanya lelaki yang nakal,aku tidak pantas untuk memilikinya. Tapi semakin aku tahan hatiku semakin mendobrak.

Pagi itu kucoba untuk mengungkapan perasaanku padanya. Aku mendekatinya dan aku mulai mengatakannya. Hatiku sangat gak karuan saat itu. Nia Andriyani sesosok orang yang aku sayangi takku sangka juga merasakan apa yang aku rasakan. Ya …Allah apa aku bermimpi bisa memiliki dia? Mulai pagi itu kami jalani hubungan kami.

Setelah beberapa hari kami jalani aku sudah kesal dengan sikapnya yang selalu cuwek denganku. Tapu aku sudah mulai mengerti sifat-sifatnya. Hubungan kita tetap berlanjut hingga kelas IX. Dia heran dengan sikapku beberapa hari ini yang selalu diam. Aku menceritakan semua masalahku padanya. Apalagi kalau tidak masalah keluarga. Aku menceritakan semua yang aku rasakan. Dia memberi masuakan-masuakan tapi aku menolaknya. Aku sangat muak dengan pendapat-pendapatnya. Aku marah dan aku mulai mendiamkannya.

Meskipun sikapku padanya seperti itu dia tetap memperhatikanku. Saat menjelang Ujian Semester Genap dia tetap menyuruhku untuk belajar. Aku benar-benar kesal dengan sikapnya yang selalu mengaturku. Kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Dia hanya bisa bersabar melihat sikapku. Meskipun kita sudah tidak terikat dia tetap menyapaku dikala dia melihatku. Sempat ia mengirimkan puisi kepadaku

Kasih ….
Ku serahkan seluruh hati dan ruang rinduku untukmu
Tapi kiranya kau tolak semua itu
Kucoba tuk rebut hatimu
Tapi kau simpan rapat-rapat hatimu
Bahkan kau beri duri hatimu
Sehingga kutertusuk kalaku ingin mencurinya

Tapi kukan setia menunggu hingga duri itu layu
Dan ku harap kau tumbuhkan bunga
Sebagai pengganti
Bunga indah
Bunga cinta dan kasih sayang
Yang tulus
Dan selembut sutra

Setelah aku membaca puisinya itu. Aku tetap cuwek dengannya karena aku terlanjur sebel dengan semua sikapnya.

Tak terasa pengumuman kelulusan tinggal besok. Alhamdulillah semua murid MTs N Bantul. Setelah kelulusan aku mulai merindukan perhatian,kasih sayang,dan senyumannya.

Aku baru sadar,kalau aku tidak bisa bangkit tanpa Nia. Aku sangat-sangat menyesal. Aku ingat saat aku ceritakan masalah keluargaku padanya. Berhari-hari aku marah dengannya. Aku menyesal. Andai waktu bisa terulang kembali.

Sejak itu aku benar-benar sadar. Aku mulai merasakan kegelisahan saat aku terpisah dengannya. Aku takut bila aku menjadi anak nakal seperti dahulu sebelumku mengenalnya. Tapi sejak itu aku sadar bahwa aku tidak bisa bangkit tanpa Nia. Aku semakin sayang dengan keluargaku,aku mengerti apa arti hidup,dan melakukan apa yang pernah ia sarankan kepadaku untuk keluargaku.

Sekarang aku benar-benar yakin bahwa keluargaku hanya ingin membuat aku sadar bahwa hidup itu butuh pengorbanan. Dan sedikit demi sedikit aku torehkan prestasiku di SMA N 1 Yogjakarta. Dengan prestasiku itu semua keluargaku sangat senang dan mereka benar-benar bangga dengan keberubahan sikapku. Itu semua semakin menambah kesadaranku bahwa Nia adalah wanita yang sempurna. Aku bersyukur sempat memilikinya. Namun disisis lain aku menyesal telah menyia-nyiakan dia. Andai waktu bisa terulang akuakan menjaganya dengan sekuat jiwa dan ragaku. Aku tidak akan melepasnya hingga takdir yang akan melepaskan itu semua. Bila waktu tidak bisa terulang izinkan aku bertemu dengannya. Untuk mengucapkan terima kasih atas kesetiaan dan ketulusannya menyayangiku. Dan aku juga akan minta maaf kepadanya atas segala sikapku kepadanya dahulu.

Ya Allah…
Terima kasih
Kau telah berikan aku keluarga yang harmonis
Keluarga yang selama ini aku impikan

Tapi mengapa Ya Allah
Disisi lain kau baru memberikan aku penyesalan
Dimana penyesalan itu yang membuat aku seperti ini

Andai dia masih didekatku
Kanku sayangi dia setulus cintaku
Takkanku biarkan dia meneteskan air mata
Tapi apalah dayaku ini telah terjadi

Rabu, 24 Februari 2010

SEJATIKU TAK SAMPAI (REVISI)

Oleh : Izzan Nafi Arini

“Dell…tadi kamu aku salamin sama Sandi,tidak apa ya jangan marah lho”kataku pada Della yang sedang membaca buku pelajaran di perpustakaan.
”Ih…Sandi siapa lagi aku enggak kenal.”katanya sambil bingung memikirkan pekataanku.
”Aduh sama temennya diri kok enggak inget,itu loh teman waktu kamu kelas VII G dulu.”ingatku.
”O…dia,tapi apa hubungannya sama aku?”jawabnya.
”Lalu dia gimana.”Tanyannya agak perhatian dengan beritaku tadi.
”Ya agak ngrespon sih,tapi tadi dia juga agak lupa dngan nama kamu,tapi ya akhirnya ingat juga.”jawabku agak memandangnya heran.

“Tet…tet…”
Bel masuk berbunyi.Kami segera kembali kekelas kami.Della yang begitu memikirkan perkataaanku.Akhirnya dia nglamun di kelas.

“Dell…kamu ngapain ngelamun ya.”Tanya Bu Nisa yang sedang serius menerangkan pelajaran.
“Enggak kok Bu.”jawab Della yang agak takut dengan pertanyaan Bu Nisa.
"Ya sudah dengarkan penjelasan Ibu”perintah Bu Nisa.

Karna Della terlalu ketakutan dengan pertanyaan yang dilontarkan Bu Nisa.Dia hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda bahwa dia sudah menjawab pertanyaan dari Bu Nisa.

“Perhatian karna ada rapat anak-anak belajar di rumah”

“Anak-anak karna mau rapat anak-anak boleh pulang,”

Para siswa SMP N 47 Semarang segera keluar dari sekolah untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing.Karena kebetulan aku dan Della adalah tetangga.Aku menunggu Della untuk pulang bareng.Aku menunggu Della di depan pintu gerbang sekolah kami.Tak lama aku menunggunya dia sudah kelihatan dari kejauhan.
"Kamu dari mana saja”tanyaku.
”Enggak tadi hanya ada urusan sedikit sama Elma.”jawab Della meyakinkanku.

Aku menarik tangan Della yang agak binggung mencari sesuatu.Tak kami sangka ternyata Sandi berjalan disamping kita.

“San..ni Della dah tau belom.”teriakku.Sandi hanya melirikkan matanya pada Della.Begitu pula Della yang sama melirikkan matanya ke Sandi.Aku berpikir sepertinya ada yang sedang kasmaran.
”Udah ayo pulang,aku sudah lelah mumpung pulang cepet.”ajak Della padaku yang agak malu-malu padaku dan Sandi.

Karena rumah kami tidak jauh dengan sekolah kami.Kami cukup berjalan untuk sampai kerumah kami.Dengan santai kita telusuri jalan menuju rumah kami,karena kita berjalan dengan santai,tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Della.

“Dah dulu ya…”

Ku anggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan dari Della.Setelah ini kita hanya di rumah mengerjakan soal-soal dan belajar untuk masa depan kami.Kami tidak dibiasakan orangtua kami untuk hidup bermewah-mewahan.

Setelah beberapa bulan berlalu mereka menjadi sedikit lebih akrab.Tapi tak disangka ternyata Sandi sudah punya pacar,yang tidak disangka lagi pacarnya itu adalah Winda teman yang begitu akrab dengan Della.Della sanagat terpukul dengan berita ini.Tangisan yang hamper setiap hari ia lakukan.Canda tawa yang dulu kini telah terhapus dengan tetesan air mata.Aku merasa bersalah karena pernah mengenalkan mereka.Aku coba untuk menenangkannya dan kubujuk dia untuk melupakan sesosok Sandi yang hanya memberikan harapan palsu padanya.

Hari-hari Della mulai kembali seperti dahulu.Canda tawa mulai ada.Dan kami mulai lembaran kisah cinta Della kembali.Della sudah mulai melupakan Sandi dan mengikhlaskannya untuk Winda teman sekaligus sahabatnya untuk Sandi seorang yang dia cintai.Namun cerita persabatan mereka tak begitu akrab seperti dulu.

“Mungkin ini memang jalan cintaku ya,tapi tidak apalah mungkin ini jalan yang terbaik buat kisah cintaku saat ini”katanya padaku yang agak mengingat masa lalunya.
“Ah mungkin ini cobaan lupain aja,masih ada cowok yang lain yang lebih baik daripada dia”yakinku pada Della,dan dia mulai sedikit tegar mendengarkan kata-kataku.
“Lihat tuh Arul temen sekelas kamu.Matanya unik ya.”sanjungku pada Arul teman sekelas Della.Tapi saat kulihat tatapan mata Della aku rasa dia sedikit menyimpan rasa dengan Arul.Aku sedikit enggak enak dengan perkataanku tadi.

“Dell maaf aku enggak bermaksud buat ngrebut dia dari kamu.”kataku agak takut pada Della yang mulai merasakan cinta baru.

“Maksud kamu apa,?Arul,aku enggak suka kok sama dia.”elak Della yang sedikit menyimpan rahasia padaku.

“Enggak usah bohong padaku dari tatapan matamu aku bisa baca perasaan kamu loh.Tapi ntar kalau kamu suka sama dia kamu jangan terlalu suka ya aku gak mau kejadian yang kemarin terjadi lagi padamu.Dan bila memang kalian bersama aku doain biar langgeng.”

“Ih apaan sih,mang terlihat ya dari tatapan mataku.Aduh kenapa sih mata kamu gak bisa di ajak kompromi.”

Aku amati hubungan mereka semakin akrab semakin akrab.Dihatiku aku merasa ada yang menjanggal dengan sikap Ahrul pada Della.Tapi persaanku itu hanya bisa aku pendam.Aku takut dengan aku berkata yang aneh-aneh pada Della membuat dia sakit hati lagi.

Hingga waktupun menjawab semua kegelisahan yang aku rasakan selama ini.Ternyata seperti kemarin Ahrul seperti Sandi yang hanya memberi harapan palsu pada Della.Aku berfikir apa kurangnya Della buat mereka sudah catik pinter lagi.Ahrul ternyata nyatain perasaannya pada Lani yang kebetulan teman sekelasku.Tapi sakit hati yang dirasakan Della dengan Ahrul tak begitu menyakitkan seperti yang ia rasakan dengan Sandi.Sebenarnya semua itu tertutup,tapi ternyata Kavin teman akrab Ahrul memberi tau semua itu pada Della.Della hampir tidak percaya dengan Kavin tapi sepandai pandainya orang menyimpan rahasia pasti akan ketahuan juga.

Dan seperti dahulu aku yang menenangkan hatinya kembali.Kavin yang aku lihat memiliki banyak komunikasi dengan Della membuat aku yakin bahwa dia suka dengan Della.Dan ternyata dugaanku benar lagi.Sebulan setelah itu Kavin menyatakan perasaannya pada Della.Oh….Tuhan terima kasih kau telah berikan cinta tulus pada Della.Aku yang selama ini menjadi teman curhat Della disaat senang maupun duka ikut tersenyum.
Tapi aku tidak berpikir sama sekali kalau dia menolaknya.Tapi aku tetap tidak yakin dengan jawaban Della.

“Dell apa kamu benar-benar matang dengan jawaban kamu.”
Aku lihat dari raut muka Della yang agak menyesal dengan jawabannya tadi.”Kamu jujur saja kita sebentar lagi mau lulusan kamu jujur aja dengan perasaan kamu.”ku coba yakinkan Della.

"Maka dari itu aku emang sayang banget sama Kavin.Aku takut kalau aku enggak bisa jauh darinya."jelasnya padaku.

Sejak itu aku mulai tahu apa jalan pikiran Della.Aku coba hargai pendapatnya,dan aku coba tuk jelaskan ini semua pada Kavin.Dan akhirnya Kavin mengerti dan menghargai keputusan yang di ambil Della.

UN telah selesai.Kita hanya menunggu perpisahan dan mungkin itu duka bagi mereka.Tapi bila ada anugrah pasti akan ada jalan untuk semua itu.

Cinta oh...mengapa jalanmu begini?tapi bila ini memang jalan yang terbaik buat merekakanku relakan semua ini untuk dia.Namun bila dia bukan cinta sejatinya tolong hapus semua rasa ini .