Oleh : Izzan Nafi Arini
“Dell…tadi kamu aku salamin sama Sandi,tidak apa ya jangan marah lho”kataku pada Della yang sedang membaca buku pelajaran di perpustakaan.
”Ih…Sandi siapa lagi aku enggak kenal.”katanya sambil bingung memikirkan pekataanku.
”Aduh sama temennya diri kok enggak inget,itu loh teman waktu kamu kelas VII G dulu.”ingatku.
”O…dia,tapi apa hubungannya sama aku?”jawabnya.
”Lalu dia gimana.”Tanyannya agak perhatian dengan beritaku tadi.
”Ya agak ngrespon sih,tapi tadi dia juga agak lupa dngan nama kamu,tapi ya akhirnya ingat juga.”jawabku agak memandangnya heran.
“Tet…tet…”
Bel masuk berbunyi.Kami segera kembali kekelas kami.Della yang begitu memikirkan perkataaanku.Akhirnya dia nglamun di kelas.
“Dell…kamu ngapain ngelamun ya.”Tanya Bu Nisa yang sedang serius menerangkan pelajaran.
“Enggak kok Bu.”jawab Della yang agak takut dengan pertanyaan Bu Nisa.
"Ya sudah dengarkan penjelasan Ibu”perintah Bu Nisa.
Karna Della terlalu ketakutan dengan pertanyaan yang dilontarkan Bu Nisa.Dia hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda bahwa dia sudah menjawab pertanyaan dari Bu Nisa.
“Perhatian karna ada rapat anak-anak belajar di rumah”
“Anak-anak karna mau rapat anak-anak boleh pulang,”
Para siswa SMP N 47 Semarang segera keluar dari sekolah untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing.Karena kebetulan aku dan Della adalah tetangga.Aku menunggu Della untuk pulang bareng.Aku menunggu Della di depan pintu gerbang sekolah kami.Tak lama aku menunggunya dia sudah kelihatan dari kejauhan.
"Kamu dari mana saja”tanyaku.
”Enggak tadi hanya ada urusan sedikit sama Elma.”jawab Della meyakinkanku.
Aku menarik tangan Della yang agak binggung mencari sesuatu.Tak kami sangka ternyata Sandi berjalan disamping kita.
“San..ni Della dah tau belom.”teriakku.Sandi hanya melirikkan matanya pada Della.Begitu pula Della yang sama melirikkan matanya ke Sandi.Aku berpikir sepertinya ada yang sedang kasmaran.
”Udah ayo pulang,aku sudah lelah mumpung pulang cepet.”ajak Della padaku yang agak malu-malu padaku dan Sandi.
Karena rumah kami tidak jauh dengan sekolah kami.Kami cukup berjalan untuk sampai kerumah kami.Dengan santai kita telusuri jalan menuju rumah kami,karena kita berjalan dengan santai,tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Della.
“Dah dulu ya…”
Ku anggukkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan dari Della.Setelah ini kita hanya di rumah mengerjakan soal-soal dan belajar untuk masa depan kami.Kami tidak dibiasakan orangtua kami untuk hidup bermewah-mewahan.
Setelah beberapa bulan berlalu mereka menjadi sedikit lebih akrab.Tapi tak disangka ternyata Sandi sudah punya pacar,yang tidak disangka lagi pacarnya itu adalah Winda teman yang begitu akrab dengan Della.Della sanagat terpukul dengan berita ini.Tangisan yang hamper setiap hari ia lakukan.Canda tawa yang dulu kini telah terhapus dengan tetesan air mata.Aku merasa bersalah karena pernah mengenalkan mereka.Aku coba untuk menenangkannya dan kubujuk dia untuk melupakan sesosok Sandi yang hanya memberikan harapan palsu padanya.
Hari-hari Della mulai kembali seperti dahulu.Canda tawa mulai ada.Dan kami mulai lembaran kisah cinta Della kembali.Della sudah mulai melupakan Sandi dan mengikhlaskannya untuk Winda teman sekaligus sahabatnya untuk Sandi seorang yang dia cintai.Namun cerita persabatan mereka tak begitu akrab seperti dulu.
“Mungkin ini memang jalan cintaku ya,tapi tidak apalah mungkin ini jalan yang terbaik buat kisah cintaku saat ini”katanya padaku yang agak mengingat masa lalunya.
“Ah mungkin ini cobaan lupain aja,masih ada cowok yang lain yang lebih baik daripada dia”yakinku pada Della,dan dia mulai sedikit tegar mendengarkan kata-kataku.
“Lihat tuh Arul temen sekelas kamu.Matanya unik ya.”sanjungku pada Arul teman sekelas Della.Tapi saat kulihat tatapan mata Della aku rasa dia sedikit menyimpan rasa dengan Arul.Aku sedikit enggak enak dengan perkataanku tadi.
“Dell maaf aku enggak bermaksud buat ngrebut dia dari kamu.”kataku agak takut pada Della yang mulai merasakan cinta baru.
“Maksud kamu apa,?Arul,aku enggak suka kok sama dia.”elak Della yang sedikit menyimpan rahasia padaku.
“Enggak usah bohong padaku dari tatapan matamu aku bisa baca perasaan kamu loh.Tapi ntar kalau kamu suka sama dia kamu jangan terlalu suka ya aku gak mau kejadian yang kemarin terjadi lagi padamu.Dan bila memang kalian bersama aku doain biar langgeng.”
“Ih apaan sih,mang terlihat ya dari tatapan mataku.Aduh kenapa sih mata kamu gak bisa di ajak kompromi.”
Aku amati hubungan mereka semakin akrab semakin akrab.Dihatiku aku merasa ada yang menjanggal dengan sikap Ahrul pada Della.Tapi persaanku itu hanya bisa aku pendam.Aku takut dengan aku berkata yang aneh-aneh pada Della membuat dia sakit hati lagi.
Hingga waktupun menjawab semua kegelisahan yang aku rasakan selama ini.Ternyata seperti kemarin Ahrul seperti Sandi yang hanya memberi harapan palsu pada Della.Aku berfikir apa kurangnya Della buat mereka sudah catik pinter lagi.Ahrul ternyata nyatain perasaannya pada Lani yang kebetulan teman sekelasku.Tapi sakit hati yang dirasakan Della dengan Ahrul tak begitu menyakitkan seperti yang ia rasakan dengan Sandi.Sebenarnya semua itu tertutup,tapi ternyata Kavin teman akrab Ahrul memberi tau semua itu pada Della.Della hampir tidak percaya dengan Kavin tapi sepandai pandainya orang menyimpan rahasia pasti akan ketahuan juga.
Dan seperti dahulu aku yang menenangkan hatinya kembali.Kavin yang aku lihat memiliki banyak komunikasi dengan Della membuat aku yakin bahwa dia suka dengan Della.Dan ternyata dugaanku benar lagi.Sebulan setelah itu Kavin menyatakan perasaannya pada Della.Oh….Tuhan terima kasih kau telah berikan cinta tulus pada Della.Aku yang selama ini menjadi teman curhat Della disaat senang maupun duka ikut tersenyum.
Tapi aku tidak berpikir sama sekali kalau dia menolaknya.Tapi aku tetap tidak yakin dengan jawaban Della.
“Dell apa kamu benar-benar matang dengan jawaban kamu.”
Aku lihat dari raut muka Della yang agak menyesal dengan jawabannya tadi.”Kamu jujur saja kita sebentar lagi mau lulusan kamu jujur aja dengan perasaan kamu.”ku coba yakinkan Della.
"Maka dari itu aku emang sayang banget sama Kavin.Aku takut kalau aku enggak bisa jauh darinya."jelasnya padaku.
Sejak itu aku mulai tahu apa jalan pikiran Della.Aku coba hargai pendapatnya,dan aku coba tuk jelaskan ini semua pada Kavin.Dan akhirnya Kavin mengerti dan menghargai keputusan yang di ambil Della.
UN telah selesai.Kita hanya menunggu perpisahan dan mungkin itu duka bagi mereka.Tapi bila ada anugrah pasti akan ada jalan untuk semua itu.
Cinta oh...mengapa jalanmu begini?tapi bila ini memang jalan yang terbaik buat merekakanku relakan semua ini untuk dia.Namun bila dia bukan cinta sejatinya tolong hapus semua rasa ini .
so sweet,tp terlalu banyak tokoh,sehinng agak rumit bacanya....
BalasHapusmakacih.
makich dach komen
BalasHapusMezza, ceritanya dah OK. Namun buat perbaikan ke depan tetep harus diperbaiki terutama pada pilihan katanya. Aku usul supaya kata-katanya yang realistis saja, maksudnya jangan terlalu puitis gitu.
BalasHapusContohnya pada kutipan ini:
Hingga waktupun menjawab semua kegelisahan yang aku rasakan selama ini.
Kan, personifikasi banget to "waktu pun menjawab" kok kayak manusia. Ya, nggak?
sekian dulu deh, jangan marah ya ....
makasih semua,tas komen2'a
BalasHapus